Pages

Rabu, 15 September 2010

MENGAPAI CINTA ALLAH..





Untuk menggapai Cinta-Nya..menurut Ibnu Qayyim.. ada 10 perkara yang harus dilakukan...:

1. Membaca Al-Quran (sbg surat cinta-Nya) dan memahaminya dengan baik....

2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat sunat sesudah shalat wajib.

3. Selalu menyebut dan berzikir dalam segala keadaan dengan hati..lisan dan perbuatan.

4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.

5. Menanamkan dalam hati Asma’ul Husna dan sifat-sifatnya dan memahami maknanya.

6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.

7. Menundukkan hati dan diri ke pangkuan Allah.

8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab sucinya di waktu malam ketika orang sedang nyenyak tidur.

9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh..mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.

10. Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.


Saling mencintailah karena Allah agar dapat mendapatkan kecintaan Allah...

Dalam hadith Qudsi Allah berfirman;

“CintaKu harus Kuberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku.. CintaKu harus Kuberikan kepada orang-orang yang saling berkorban karena-Ku..dan Cinta-Ku harus Kuberikan kepada orang-orang yang menyambung hubungan karena-Ku”.

Hiduplah di bawah naungan cinta dan saling mencintailah karena keagunganNya..niscaya akan mendapatkan naungan Allah, yang pada hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda;
“Pada hari kiamat Allah berfirman: Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari yang tiada naungan selain naunganKu ini.. Aku menaungi mereka dengan naunganKu“. (HR. Muslim)

Bahkan Allah memuliakan mereka yang saling mencintai dan bersahabat karena Allah...yang membuat para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka mereka... 

Nasa’i meriwayatkan dengan sanad dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda;

“Di sekeliling Arasy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah cahaya pula...Mereka bukanlah para nabi atau syuhada...tetapi para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka”.

Para sahabat bertanya“Wahai Rasulullah beritahulah kami tentang mereka!”

Beliau bersabda “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai.. bersahabat dan saling mengunjungi karena Allah” .

Ya Allah ..karurniakanlah kepada kami Cinta terhadap-Mu..
Dan Cinta kepada mereka yang mencintai-Mu..
Dan apa saja yang mendekatkan kami kepada Cinta-Mu..
Jadikanlah Cinta-Mu itu lebih berharga bagi kami daripada air yang sejuk bagi orang yang dahaga....

Sahabat Hikmah...
Sudahkah kita menemukan cinta yang hakiki..cinta yang sejati dalam hidup ini...?
Sejauh mana kita mengenal-Nya... asma’ (nama)-Nya.. sifat-sifat-Nya... kehendak-Nya..larangan-Nya..?
Seringkah kita mengingat-Nya.. menyebut nama-Nya melalui zikir-zikir yang panjang...?
Seringkah kita mendekatkan diri kepada-Nya dengan sholat serta ibadah-ibadah lainnya..?
Seringkah kita merintih...mengadu dan mengharap kepada-Nya melalui untaian doa yang keluar dari lubuk hati....
Sudahkah kita mengikuti kehendak-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya....?
Apakah kita mencintai seseorang karena-Nya atau karena dorongan nafsu kita sendiri...?
Sejauh mana kita berusaha untuk memenangkan Allah atas hawa nafsu kita sendiri....?




" Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka menCINTAinya sebagaimana mereka menCINTAi Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat CINTAnya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al Baqarah : 165)

Katakanlah: "Jika bapak-bapak..anak-anak.. saudara-saudara.. isteri-isteri.. kaum keluargamu.. harta kekayaan yang kamu usahakan... perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai..adalah lebih kamu CINTAI daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya.. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS At Taubah : 24)

Katakanlah ( Hai Muhammad) : "Jika kamu (benar-benar) menCINTAi Allah... ikutilah aku (Muhammad SAW)...niscaya Allah menCINTAimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran : 31)
Baca selengkapnya..

Minggu, 12 September 2010

Nishfu Sya'ban

Malam Nishfu Sya'ban dan Keutamaannya
Bulan Sya'ban adalah bulan yang diapit oleh dua bulan yang sangat mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab merupakan salah satu dari 4 bulan haram: bulan-bulan yang dihormati. Allah berfirman agar kita tidak menganiaya diri kita dengan berbuat maksiat di bulan-bulan haram, sebab melakukan maksiat di bulan haram lebih berat tanggung jawabnya kelak di akhirat.

Adapun keutamaan bulan Ramadhan sangat banyak, di antaranya: ibadah wajib di bulan itu seperti 70 ibadah wajib di bulan lain, amalan sunah dibulan itu senilai amalan wajib di bulan lain, pada bulan itu Quran diturunkan, dan terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dll. Keutamaan yang banyak dari kedua bulan ini seakan menenggelamkan kelebihan bulan Sya'ban. Padahal, bulan Sya'ban juga memiliki keutamaan:

Diriwayatkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi, "Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya'ban." Kata Nabi, "Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa." (HR Ahmad dan Nasai - dlm. Figh Sunah Abu Dawud).

Adapun keutamaan bulan Sya'ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

HADIS PERTAMA
Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi' sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata:
"Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya'ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb." (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

HADIS KEDUA
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya'ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan." (HR Ibnu Majah)

HADIS KETIGA
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Jika malam nishfu Sya'ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala', lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar." (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya'ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.


Doa yang Dibaca Berikut Artinya..

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang...
Ya Allah yang memiliki anugerah dan tidak dianugerahi..
wahai yang memiliki kebesaran dan kemuliaan..yang memiliki karunia dan kenikmatan..
tiada Tuhan melainkan Engkau.. Engkau tempat berlindung..tempat memohon pertolongan..
dan tempat aman bagi orang yang ketakutan..

Ya Allah jika telah Engkau tuliskan nasibku dalam Ummul kitab sebagai orang yang sengsara..
atau orang yang diharamkan mendapat kenikmatan..atau orang yang ditolak..atau orang yang disempitkan rezekinya..
maka demi kemurahan-Mu..hapuskanlah ya Allah kesengsaraanku..keterhalanganku dari nikmat..
ketertolakkanku dan kesempitan rezekiku..
kemudian tetapkanlah aku di dalam Ummul Kitab yang ada di sisi-Mu sebagai orang yang bahagia.. mendapat rezeki cukup...memperoleh taufiq untuk melakukan segala kebaikan..
Sesungguhnya Engkau telah berfirman..dan firman-Mu lah yang benar..
di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada nabi-Mu yang diutus yaitu..

"Allah (berkuasa utk) menghapus dan menetapkan yang dikehendaki-Nya dan di sisi-Nya Ummul kitab"..

Ya Allah dengan tajallimu yang Maha agung..pada malam Nishfu Sya'ban yang mulia ini..
yang di dalamnya dipisahkan dan dikukuhkan semua persoalan penting..
aku mohon agar dihindarkan dari malapetaka yang aku ketahui..atau yang tidak aku ketahui..
atau yang lebih Engkau ketahui.. sesungguhnya Engkau Maha Luhur dan Mulia...
Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad keluarga dan para sahabatnya..
dan segenap puji bagi-Mu ya Allah Pemelihara sekalian alam...


Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya'ban...

Cara melaksanakan ibadah di malam Nishfu Sya'ban ini berbeda-beda.. Di bawah ini adalah cara yang dilakukan di Mesjid Riyadh atau cara yang diajarkan oleh Habib Abubakar Alatas syeikhnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi..Muallif Simtud Duror...

Salatlah Maghrib berjama'ah dan selesaikan semua doa dan wirid.. kemudian salatlah sunah ba'diah Maghrib..

Berikut adalah rangkaian ibadah nishfu sya'ban..:

PERTAMA

shalatlah sunah awwabin 2 rakaat..
niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin lillaahi ta'aalaa
bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah pada rakaat pertama dan kedua..


setelah salam bacalah fatihah dan yaa siin dengan niat agar dipanjangkan umur dalam ketaatan kepada Allah..
al-faatihah wa yaa siin biniyyati thuulil 'umr ma-'at taufiiq li thoo-'atillaah

KEDUA

shalatlah sunah awwabin 2 rakaat..
niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin illaahi ta'aalaa
bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah pada rokaat pertama dan kedua


setelah salam bacalah fatihah dan yaa siin dengan niat agar diselamatkan dari segala mara bahaya
al-faatihah wa yaa siin biniyyatil hifzh wal 'ishmati minal aafaat wal 'aahaat

KETIGA

salatlah sunah awwabin 2 rakaat
niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin lillaahi ta'aalaa
bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah pada rokaat pertama dan kedua


setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan niat agar dapat berdikari tanpa membutuhkan bantuan dari sesama makhluk Allah dan agar meninggal dalam husnul khotimah
al-faatihah wa yaa siin biniyyatil istighnaa` 'anin naas wa husnul khootimah.

(Akhir dari ibadah ini akan bersamaan dengan masuknya waktu Isya).

Sholat ini hendaknya dilakukan secara berjamaah dengan istri, anak, pembantu, tetangga, di mesjid dll. Pada salat awwabin imam hanya membaca jahr (dengan suara keras) surat al-faatihah saja. (zawiya.net) Baca selengkapnya..

Seputar Bulan Syaban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.



Shaum di bulan Sya’ban
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai. Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:
Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:

1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.

2.Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.
3.Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).

Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan –sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban
Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

1.Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.

2.Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.

3.Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri –meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.
Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).
Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu. Wallahu ta’ala a’lam.

Maraji’: Lathaaiful Ma’arif fi ma Limawasimil ‘Aami minal Wadhaaif, Ibnu Rajab Al-Hambali.
Al-Ilmam bi Syai’in min Ahkamish Shiyam, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul Haula Syahri Sya’ban di www.islam-qa.com oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir) Baca selengkapnya..